S.A.S Ponto Utusan Republik Indonesia

 



S.A.S. Ponto, Tokoh Pertanian dan Ilmuwan Asal Sulawesi Utara yang Patut Dikenang, Iftiqar S.A  Ponto Ajak Generasi Muda Teladani Jejak Pengabdian



Jakarta —  Sejarawan Sulawesi Utara,  Iftiqar S.A. Ponto, mengajak masyarakat untuk kembali mengenang jasa dan pengabdian almarhum S.A.S. Ponto, tokoh asal Bolangitang yang telah memberikan kontribusi penting di bidang pertanian, pangan, dan ilmu biologi pada masa Hindia Belanda hingga awal kemerdekaan Indonesia.

S.A.S. Ponto merupakan putra dari pasangan Sinjo Ponto dan Matina Lauma. Ia lahir di Bolangitang, Sulawesi Utara, pada 14 Desember 1902. Ayahnya, Sinjo Ponto, merupakan Presiden Raja Kerajaan Bolangitang sekaligus putra Raja Bolangitang, Bonji Ponto.

Sejak muda, S.A.S. Ponto menempuh pendidikan di Middelbare Landbouw School Buitenzorg, sekolah menengah pertanian yang didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Latar belakang pendidikan tersebut mengantarkannya menjadi salah satu tokoh yang berkiprah dalam pengembangan ilmu pertanian di Indonesia.

Salah satu pencapaiannya yang menonjol adalah keberhasilannya menemukan metode untuk mengendalikan tanaman liar yang tumbuh tidak terkendali di wilayah Makassar saat bertugas di Dinas Pertanian Hindia Belanda (Landbouw). Atas dedikasi tersebut, pada September 1946 ia menerima penghargaan Bintang Ridder Oranje-Nassau dari Ratu Wilhelmina Belanda.

Pengabdian S.A.S. Ponto juga mendapat pengakuan dari Pemerintah Republik Indonesia. Melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 173 Tahun 1951, ia ditunjuk sebagai utusan resmi Indonesia pada International Meeting on Land Utilisation in Tropical Regions yang diselenggarakan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) di Nuwara Eliya, Ceylon (kini Sri Lanka), pada 17–29 September 1951. Forum internasional tersebut membahas pemanfaatan lahan di kawasan tropis, khususnya wilayah khatulistiwa, untuk mendukung ketahanan pangan dan pembangunan pertanian.

Selain kiprahnya di bidang pertanian, S.A.S. Ponto juga dikenal dalam dunia ilmiah melalui publikasi berjudul "De Teken van den Oost-Indischen Archipel" (1932), yang disusun bersama B.J. Krijgsman. Karya tersebut menjadi salah satu referensi ilmiah penting mengenai sistematika dan biologi tungau caplak di Hindia Belanda serta menjadi rujukan sejarah dalam bidang zoologi dan biologi.

S.A.S. Ponto wafat di Bogor, Jawa Barat, pada 18 November 1971, meninggalkan warisan pemikiran dan pengabdian yang hingga kini masih relevan bagi pembangunan sektor pertanian dan ilmu pengetahuan Indonesia.

Iftiqar S.A. Ponto, yang juga merupakan cucu S.A.S. Ponto, berharap jasa dan prestasi sang kakek terus dikenang oleh bangsa Indonesia.

"Beliau telah memberikan sumbangsih nyata bagi perkembangan pertanian, pangan, dan ilmu biologi. Warisan pemikiran serta pengabdiannya hendaknya menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya bagi bangsa, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan nasional dan mengembangkan ilmu pengetahuan," ujar  Iftiqar S.A. Ponto.

Menurutnya, mengenang tokoh-tokoh daerah yang telah berkontribusi di tingkat nasional maupun internasional merupakan bagian penting dalam menjaga memori sejarah bangsa sekaligus menumbuhkan semangat generasi penerus untuk melanjutkan pengabdian di berbagai bidang strategis.
S.A.S. Ponto, Tokoh Pertanian dan Ilmuwan Asal Sulawesi Utara yang Patut Dikenang
.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Raja Ali Padir Ponto ( Pade )

Kerajaan Padang Kero

Raja Daud Ponto-Pontoh Raja Bolangitang ke 2 yang pertama memeluk Islam