Jejak kolonial Inggris di Sulawesi Utara

 

Peta Sulawesi 

 Awal bulan Maret 1797 kapal kapal Inggris yakni Resistance dibawah komandan Captain  Edward Pakenkam dan HMS Orpheus dibawah komandan Captain Henry Newcombe tiba di Manado.
Residen Belanda di Menado George Frederik  Durr tanggal 4 Maret 1797 menyerahkan Manado kepada Captain Edward Pakenkam.

" Di bawah bendera Engres" demikian narasi pada kontrak Raja Bolangitang Salomon Ponto atau lebih populer disebut Raja Salmon Muda Ponto  ( Pontoh ).

Pada April 1811 Raja Bolangitang Salomon Ponto beserta Bobato ( perangkat kerajaan ) membuat kontrak dihadapan Charles Forbes residen Inggris di Manado , tepatnya di benteng Niew Amsterdam.


Kontrak Raja Salomon Ponto (1)


 "Semua kontrak apa sudah bawa dan terkunci     diantara Companie akan tiada lagi terangkat dan memegang itu ....melainkan kami terjunjung dibawah bendera Engres"

Demikian sebahagian narasi pada kontrak bertarik April 1811 tersebut.
Kontrak dengan kolonial Inggris ini juga sebagai pernyataan pembatalan oleh Raja Bolangitang beserta Bobato nya terhadap semua kontrak dengan Companie Holland ( Belanda ) sebelumnya, Raja Salomon Ponto juga di sebut dalam suatu versi  menandatangani kontrak dengan VOC ( Vereenigde Oostindische Compagnie) pada tahun 1793 ( Prof.H.T. Usup )

Kontrak Raja Salomon Ponto  (2)



Kontrak Raja Salomon Ponto ini di foto langsung  dari ANRI ( Arsip Nasional Republik Indonesia) oleh keturunannya Raja Bolangitang Salomon Ponto oleh Iftiqar S.A Ponto dan G.R Babay pada 20 November 2024. 

Periode kolonial Inggris di Sulawesi Utara singkat berbeda dengan periode kolonial Belanda di Sulawesi Utara ,sehingga Inggris meninggalkan jejak arsip dokumen yang tidak banyak pula .

Adanya arsip kontrak Raja Bolangitang Salomon Ponto dengan Inggris pada April 1811 ini di harapkan menjadi bukti pendukung untuk  memberi  gambaran administrasi pada masa kolonial Inggris di Sulawesi Utara. 


Melalui Traktat London tahun 1814, Inggris diwajibkan mengembalikan wilayah jajahannya kepada Belanda.

Namun realisasi dilapangan berjalan lambat karna berbagai faktor sehingga baru terlaksana pada tahun 1817.


Sumber :

* ANRI ( Arsip Nasional Republik Indonesia).

* Jelajah Sejarah Manado ( Adrianus Kojongian).

* Prof.H.T Usup.

* Malesung.com






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Raja Ali Padir Ponto ( Pade )

Kerajaan Padang Kero

Raja Daud Ponto-Pontoh Raja Bolangitang ke 2 yang pertama memeluk Islam